‘Kanjuruhan Disaster 2018’ : Sejarah Kelam yang Terulang

Cloteh Media

Cloteh.com | Sabtu (1/10) kembali menorehkan noktah merah dalam sejarah sepak bola Indonesia. Pasalnya laga mempertemukan Arema Malang melawan Persebaya Surabaya yang terjadi di Stadion Kanjuruhan, Malang, berakhir ricuh. Akibat dari kericuhan itu lebih dari 180 jiwa melayang.

Jumlah korban yang cukup banyak ini membuatnya berada dalam posisi kedua dalam insiden lapangan hijau paling mematikan di dunia. Akibat kericuan ini presiden Joko Widodo memerintahkan PT Liga Indonesia Baru (LIB) dan panitia penyelenggara Untuk menghentikan seluruh laga yang tersisa hingga ada aturan baru dan evaluasi tentang standar keamanan.

Gas air mata disebut-sebut adalah biang penyebab tewasnya ratusan orang pendukung tim Singo Edan. Penggunaan gas air mata sendiri sebenarnya sudah dilarang dalam aturan FIFA.

Ternyata kerusuhan yang terjadi di Stadion Kanjuruhan ini bukan kali pertama. Sebelumnya pada tahun 2018 juga sempat terjadi kericuhan yang hampir sama. Namun tidak semematikan pada tahun 2002 ini.

Berikut ini adalah kronologi kerusuhan tahun 2018 di Stadion Kanjuruhan Malang yang disebut Kanjuruhan Disaster 2018.

Kronologi Kanjuruhan Disaster 2018, Gas Air Mata Jadi Penyebabnya?

Saat itu laga mempertemukan Arema Malang sebagai tuan rumah dan juga Persib Bandung sebagai tim tamu. Laga berlangsung secara kondusif. Hingga pada akhirnya kedua tim mendapat skor yang imbang yakni 2-2.

Seusai laga beberapa oknum dari Aremania mencoba merangsek masuk ke dalam lapangan.

Untuk mencoba menghalau para masa yang sudah berhasil menjebol pagar stadion aparat kepolisian dan tim keamanan menembakkan 9 proyektil gas air mata ke arah masa yang berada di lapangan. Namun naas tiga proyektil diantaranya justru mendarat di Tribun penonton yang mana saat itu didominasi oleh perempuan dan anak-anak.

Seketika penonton panik dan mencoba menghindar dari asam yang terus mengepul dari proyektil gas. Mereka mencoba untuk menuju ke 10 yang saat itu masih tertutup. Alih-alih bisa keluar, kepanikan justru membuat mereka semakin berada dalam kesulitan. Cedera, luka, dan saling injak mereka alami.

Atas insiden ini 214 orang harus menjalani perawatan. Beberapa diantaranya juga harus menjalani rawat inap.

Salah seorang Aremania bernama Dhimas Duha Romli harus menghembuskan nafas terakhirnya usah itu larikan di rumah sakit akibat insiden ini.

Atas insiden ini penggunaan gas air mata di dalam stadion menjadi polemik tersendiri. Apa lagi dalam FIFA safety regulation tepatnya pada pasal 19 disebutkan bahwa penggunaan gas air mata adalah haram.

Sayang ya sejarah kelam pada tahun 2018 ini kembali terjadi di tahun 2022 tepatnya pada Sabtu (1/10) kemarin. Di tempat yang sama dengan kronologi yang hampir sama. Apakah sejarah memang berulang?

Menarik Dibaca

Bagikan:

Cloteh Media

Media berbagi seputar Tips, Tutorial, Teknologi, Bisnis, Keuangan, dan lainnya yang dikemas informatif dan edukatif