Entertainment, Cloteh Media – Episode terbaru sinetron populer SCTV, Wanita Istimewa, kembali menyajikan ketegangan maksimal yang menguras emosi para tokoh utamanya. Jika episode sebelumnya diakhiri dengan kondisi Vena yang memburuk, episode 132 yang tayang hari ini, Selasa 23 Desember 2025, membuka babak baru di mana perjuangan nyawa Vena menjadi kunci terkuaknya kebenaran masa lalu. Nasib beberapa karakter utama kini bergantung pada selembar bukti yang tersimpan rapi.
Mirsa, yang selama ini menghadapi badai konflik, kini harus berhadapan langsung dengan kenyataan pahit. Didampingi Devan, ia bergegas menuju rumah sakit. Suasana steril dan dingin ruang perawatan justru memicu kobaran emosi Mirsa, terutama ketika ia menyaksikan Vena terbaring lemah di ambang batas antara hidup dan mati.
Sementara itu, di lini konflik yang berbeda, ketidak harmonisan dalam rumah tangga Radit dan Karina semakin memuncak. Ketidakmampuan Karina mengendalikan kebencian pribadinya terhadap Sarah, kini mulai berdampak langsung pada Kenzo. Ancaman baru juga muncul bagi Sarah, yang tiba-tiba dihadapkan pada kemungkinan bahwa rahasia terbesarnya mengenai kecelakaan Akira bisa terbongkar oleh rekaman yang diamankan Vena.

Jeritan Hati di Ujung Tanduk: Perjuangan Nyawa Vena
Kecemasan Mirsa mencapai titik didih begitu ia tiba di rumah sakit. Ruangan Vena dipenuhi alat-alat medis yang berbunyi monoton, seolah menghitung mundur waktu yang tersisa. Devan berusaha menenangkan Mirsa, namun kegelisahan wanita itu tak tertahankan. Vena, yang baru saja memberikan pengakuan penting sebelum kondisinya anjlok, kini menjadi pusat perhatian dan kekhawatiran terbesar Mirsa.
Ketegangan semakin memuncak ketika seorang dokter jaga memasuki ruang perawatan. Dengan ekspresi serius, sang dokter meminta Mirsa dan Devan untuk segera meninggalkan ruangan. Prosedur penanganan darurat harus segera dilakukan tanpa gangguan. Permintaan ini sontak memicu reaksi emosional yang hebat dari Mirsa.
Dalam balutan air mata dan kekalutan, Mirsa menolak mentah-mentah permintaan dokter tersebut. Ia menyatakan dirinya tidak akan meninggalkan Vena sendirian. Mirsa bersikeras mendampingi dan menunggu Vena, mengabaikan protokol rumah sakit yang ketat. Bagi Mirsa, Vena bukan hanya korban, tetapi juga harapan terakhir untuk mendapatkan bukti yang dibutuhkan demi membersihkan nama baiknya dan mendapatkan keadilan.
Mirsa kemudian menangkupkan tangan, memohon dengan nada yang putus asa. Ia mendesak tim medis untuk melakukan segala upaya penyelamatan, bahkan jika itu berarti harus mengambil risiko besar. Mirsa hanya ingin memastikan bahwa Vena mendapatkan kesempatan kedua, kesempatan untuk membongkar kebenaran yang selama ini ditutupi. Devan, yang berdiri di sampingnya, hanya bisa memberikan dukungan tanpa kata, merasakan betapa dalamnya ikatan emosional antara Mirsa dan Vena.
Situasi kritis ini bukan hanya tentang nyawa Vena, tetapi juga tentang keadilan Akira. Jika Vena tidak berhasil melewati masa kritis, bukti berupa salinan video yang ia sembunyikan mungkin akan hilang selamanya. Ini adalah perlombaan melawan waktu, di mana setiap detik menentukan nasib masa depan Mirsa dan nasib Sarah yang kini kembali berada di ambang kehancuran.
Konflik Rumah Tangga Radit dan Bara Cemburu Karina
Sementara drama di rumah sakit mencapai puncaknya, konflik domestik yang melibatkan Radit, Karina, dan Kenzo terus membara. Karina memutuskan untuk mendatangi kantor Radit, mungkin dengan niat untuk membahas urusan pribadi, namun kunjungannya berakhir dengan insiden kecil yang memicu ledakan emosi besarnya. Saat melintasi lobi, ia tiba-tiba terkena lemparan bola mainan yang sedang dimainkan Kenzo.
Meskipun Kenzo, dengan kepolosan anak-anak, segera berlari menghampiri dan meminta maaf dengan tulus, Karina tidak dapat menahan kekesalannya. Wajahnya memerah karena marah, dan ia langsung melancarkan teguran keras kepada anak tersebut. Bagi Karina, insiden kecil itu adalah validasi atas rasa tidak sukanya terhadap Kenzo, anak yang selalu mengingatkannya pada bayangan Sarah.
Mendengar keributan tersebut, Radit segera datang. Ia cepat tanggap melihat situasi yang canggung dan menarik Kenzo ke ruangannya untuk meredakan ketegangan. Namun, masalah tidak berhenti di situ. Setelah Kenzo diamankan, Radit berbalik menghadap Karina, tatapannya dipenuhi kekecewaan dan ketegasan.
Radit mengingatkan Karina dengan nada tajam. Ia menegaskan bahwa Karina tidak boleh melampiaskan dendam pribadinya terhadap Sarah kepada Kenzo. Radit menjelaskan bahwa Kenzo tidak seharusnya menjadi sasaran pelampiasan emosi yang tidak relevan dengan kesalahannya. Ia menuntut Karina untuk memisahkan masalah rumah tangga mereka dengan perlakuan terhadap anaknya.
Namun, Karina justru merespons dengan serangan balik yang membakar. Ia merasa bahwa Radit selalu membela Kenzo secara membabi buta, tanpa pernah mempertimbangkan perasaannya sebagai istri sah. Karina menuduh Radit lebih memprioritaskan anak dari masa lalunya bersama Sarah dibandingkan dirinya, istri yang seharusnya menjadi prioritas utama. Tudingan ini menunjukkan betapa dalamnya rasa tidak aman dan cemburu yang menggerogoti hati Karina.
Perdebatan mereka kali ini bukan lagi sekadar salah paham kecil, melainkan retakan besar dalam fondasi rumah tangga yang semakin rapuh. Bagi Karina, keberadaan Kenzo adalah bayangan permanen Sarah yang terus menghantui pernikahannya. Radit, di sisi lain, merasa lelah dengan sifat posesif dan ketidakmampuan Karina untuk menerima masa lalunya. Kedua belah pihak kini berdiri di tebing ketidakpastian, di mana cinta perlahan terkikis oleh kecemburuan dan masa lalu yang belum terselesaikan.
Video Kunci Kebenaran: Kecerobohan Vena dan Kepanikan Sarah
Jauh dari hiruk pikuk rumah sakit dan kantor, Sarah baru saja tiba di rumahnya. Ia mendapati Felisha sudah menunggunya dengan wajah yang sedikit cemas. Awalnya, Sarah kembali menyampaikan permintaan maaf yang berulang mengenai kerusakan mobil Felisha akibat insiden sebelumnya. Ini adalah upaya Sarah untuk menunjukkan niat baik, meskipun pikirannya dipenuhi kekhawatiran yang jauh lebih besar.
Felisha dengan cepat mencoba menenangkan Sarah, mengatakan bahwa masalah mobil adalah hal sepele yang tidak perlu dipusingkan. Namun, Sarah tidak bisa bersikap tenang. Raut panik tak bisa disembunyikan ketika ia mulai menceritakan kejadian mendebarkan yang baru saja terjadi di rumah sakit, tepat sebelum Vena masuk masa kritis.
Sarah mengungkapkan bahwa Vena sempat memberikan pengakuan terakhir yang mengejutkan kepada Mirsa. Pengakuan itu menyangkut salinan video rekaman kecelakaan tragis Akira. Sontak, Felisha terperanjat mendengar kabar tersebut. Darah seolah berhenti mengalir di nadinya. Salinan rekaman itu adalah kunci yang bisa membuka kotak pandora kejahatan mereka.
Jika salinan video tersebut benar-benar ada dan jatuh ke tangan Mirsa, posisi Sarah akan langsung terancam. Semua upaya penutupan kasus dan manipulasi yang telah mereka lakukan akan sia-sia. Kebenaran mengenai peran Sarah dalam kecelakaan Akira akan terkuak, menyeretnya kembali ke liang bahaya. Felisha mulai berpikir keras, mencari celah strategi untuk mengatasi ancaman yang datang tak terduga ini.
Dinding keamanan yang susah payah dibangun Sarah kini runtuh seketika. Mereka berdua menyadari bahwa meskipun Vena kritis, ancaman dari bukti fisik jauh lebih besar daripada sekadar kesaksian lisan. Pertanyaannya sekarang adalah di mana Vena menyembunyikan salinan video kunci tersebut, dan seberapa cepat Mirsa bisa menemukannya sebelum mereka sempat bertindak.
Ujian Kepercayaan Mirsa dan Reza: Misi Pengejaran Bukti
Di tengah pusaran informasi yang semakin rumit, Mirsa dan Reza terlihat turun dari mobil milik Reza. Energi Mirsa memancar penuh urgensi dan tekad yang kuat. Ia menugaskan Reza untuk segera kembali ke rumah, memastikan bahwa Sarah tidak memiliki kesempatan untuk melarikan diri atau menghilangkan jejak setelah mengetahui bahwa rahasianya terancam oleh pengakuan Vena.
Mirsa menyatakan dengan tegas bahwa dirinya akan bergerak secepat kilat. Tujuannya kini fokus pada satu hal: mendapatkan bukti salinan rekaman kecelakaan Akira yang disebutkan Vena. Ia berjanji akan menyeret Sarah ke penjara dan memastikan bahwa keadilan untuk Akira benar-benar tercapai. Tidak ada lagi toleransi atau kompromi dalam perjuangan ini.
Mendengar rentetan instruksi dan tekad Mirsa, Reza menghentikan langkahnya. Ada gurat kekecewaan dan keraguan di wajahnya. Ia mempertanyakan sikap Mirsa. Reza bertanya apakah Mirsa masih meragukan loyalitasnya, atau apakah Mirsa belum sepenuhnya yakin bahwa ia benar-benar telah berada di pihak Mirsa dan kebenaran.
Pertanyaan Reza ini menelanjangi ketegangan yang selama ini tersembunyi dalam aliansi mereka. Meskipun Reza telah banyak membantu, masa lalu mereka penuh gejolak, dan Mirsa kesulitan memberikan kepercayaan penuh. Keraguan Mirsa, meski tidak terucap, terlihat jelas dari cara ia merencanakan misi pengejaran bukti tanpa melibatkan Reza secara penuh di lapangan.
Dialog ini menjadi pengingat bahwa di balik misi besar untuk mencari keadilan, ada ujian besar tentang kepercayaan. Hubungan Mirsa dan Reza sedang dipertaruhkan. Apakah mereka dapat bekerja sama sepenuhnya, atau akankah keraguan Mirsa menjadi celah yang dimanfaatkan oleh musuh-musuh mereka? Semua akan terjawab dalam episode-episode mendatang saat Mirsa berpacu mencari rekaman vital yang akan menentukan akhir dari saga panjang ini.




