
Cloteh Media, Surabaya – Ketinggian hilal di Desa Marana, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, dilaporkan berada pada posisi minus satu derajat di bawah ufuk pada 17 Februari 2026. Kondisi tersebut menyebabkan posisi bulan belum memenuhi kriteria yang ditetapkan oleh Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS) dalam penentuan awal bulan Hijriah.
Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Sulawesi Tengah, Junaidin, menjelaskan bahwa proses pemantauan dilakukan melalui metode rukyatul hilal yang dipadukan dengan perhitungan hisab. Berdasarkan data lapangan, bulan diketahui terbenam lebih dahulu dibandingkan matahari.
Analisis Teknis dan Selisih Waktu Terbenam
Data menunjukkan bahwa bulan tenggelam pada pukul 18.12 WITA, sementara matahari baru terbenam pada pukul 18.18 WITA. Perbedaan waktu selama enam menit ini mempertegas posisi hilal yang masih berada di bawah garis cakrawala saat matahari mulai terbenam.
Menurut Junaidin, ketinggian hilal yang masih minus serta usia bulan yang baru mencapai 1 jam 52 menit 26 detik membuat objek tersebut mustahil untuk diamati. Selain itu, tingkat iluminasi yang hanya 0,03 persen semakin menyulitkan pengamatan baik secara kasat mata maupun menggunakan alat bantu optik.
Kriteria MABIMS dan Ketetapan Sidang Isbat
Dalam ketentuan MABIMS, hilal dinyatakan terlihat jika memiliki ketinggian minimal tiga derajat. Meskipun hasil hari ini belum memenuhi syarat, data astronomis memprediksi hilal akan mencapai ketinggian tujuh derajat pada 18 Februari 2026 mendatang.
Junaidin mengimbau agar masyarakat tetap tenang dan bijaksana dalam menyikapi potensi perbedaan penetapan awal Ramadhan tahun ini. Seluruh hasil pemantauan di Sulawesi Tengah telah dilaporkan secara resmi ke Kementerian Agama RI untuk dijadikan bahan pertimbangan dalam sidang tingkat nasional.
Berdasarkan hasil Sidang Isbat, pemerintah telah menetapkan bahwa 1 Ramadhan 1447 Hijriah secara resmi jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026. Keputusan ini diambil setelah mengumpulkan berbagai laporan observasi dari titik-titik pengamatan di seluruh Indonesia.
(Red/PRS)




