
Presiden Prabowo Resmikan Museum Marsinah di Nganjuk sebagai Penghormatan Bagi Perjuangan Buruh — (Sumber: www.suarasurabaya.net)
Cloteh Media, Berita — Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, secara resmi membuka Museum dan Rumah Singgah Marsinah yang berlokasi di Desa Nglundo, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, pada Sabtu (17/5/2026). Peresmian ini menjadi momentum penting dalam mengenang dedikasi tokoh pergerakan buruh nasional tersebut.
Dalam sambutannya sebelum meresmikan fasilitas tersebut, Kepala Negara menyoroti keunikan institusi ini yang mendedikasikan diri pada sejarah pergerakan kaum pekerja. Prabowo menyatakan bahwa langkah ini merupakan sebuah catatan sejarah yang sangat jarang ditemukan di skala global.
“Ini saya kira mungkin peristiwa yang langka. Luar biasa. Mungkin di seluruh dunia baru sekarang ada museum buruh. Tetapi tolong dicek, mungkin pasti ada. Tetapi, ini peristiwa langka,” ujar Presiden Prabowo.
Lebih lanjut, Presiden menekankan bahwa kehadiran Museum Marsinah bukan sekadar bangunan fisik, melainkan bentuk apresiasi mendalam atas dedikasi dan keberanian sosok Marsinah. Bagi negara, mendiang adalah simbol perjuangan perempuan yang meski memiliki keterbatasan secara posisi sosial dan kekuasaan, tetap gigih menyuarakan hak-hak kaum buruh.
“Perjuangan tersebut adalah lambang perjuangan semua mereka-mereka yang berada di pihak yang lemah, orang-orang miskin, orang-orang yang tak punya kekuasaan, orang-orang yang tidak punya kekuatan. Dengan mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim pada pagi hari ini Sabtu, 16 Mei 2026 saya Prabowo Subianto Presiden Republik Indonesia dengan ini meresmikan Museum Ibu Marsinah dan Rumah Singgah, di Kabupaten Nganjuk, Provinsi Jawa Timur,” tegasnya saat prosesi simbolis peresmian.
Perlu diketahui, pengakuan negara terhadap sosok Marsinah telah dikukuhkan melalui penganugerahan gelar Pahlawan Nasional di bidang Perjuangan Sosial dan Kemanusiaan. Gelar tersebut diberikan secara resmi oleh pemerintah pada 10 November 2025 di Istana Negara, Jakarta, bertepatan dengan peringatan Hari Pahlawan.
Pemerintah menilai Marsinah sebagai ikon keberanian dan integritas moral dalam memperjuangkan hak asasi manusia. Berasal dari latar belakang keluarga petani, Marsinah kemudian tumbuh menjadi sosok pekerja PT Catur Putra Surya di Porong, Sidoarjo, yang memiliki keberanian luar biasa dalam menuntut keadilan.
Kisah perjuangan Marsinah berakar pada aksi menuntut hak ekonomi yang layak. Merespons kebijakan kenaikan upah yang ditetapkan Gubernur Jawa Timur saat itu, ia bersama rekan-rekannya menuntut penyesuaian upah harian dari Rp1.700 menjadi Rp2.250.
Puncaknya terjadi pada 3 Mei 1993, di mana Marsinah memimpin aksi mogok kerja seluruh buruh di PT Catur Putra Surya. Meskipun perusahaan sempat menyepakati tuntutan para pekerja pasca-perundingan, situasi berubah menjadi tragis bagi sang aktivis. Beberapa hari setelah aksi tersebut, Marsinah dilaporkan hilang dan diculik oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Tragedi berakhir pada 8 Mei 1993, saat jasad Marsinah ditemukan di Hutan Dusun Jegong, Wilangan, Nganjuk.
Diharapkan dengan diresmikannya museum ini, nilai-nilai perjuangan Marsinah dapat terus terjaga dan menjadi pelajaran berharga bagi generasi mendatang mengenai pentingnya memperjuangkan hak-hak kemanusiaan di sektor ketenagakerjaan.



