
Pemerintah Jajaki Penggunaan CNG Sebagai Alternatif LPG 3 Kg untuk Kurangi Impor — (Ilustrasi: Pixabay / Magnascan)
Cloteh Media — Pemerintah Indonesia tengah mengambil langkah strategis untuk menekan ketergantungan terhadap impor gas minyak cair (LPG) dengan menjajaki penggunaan Compressed Natural Gas (CNG) sebagai pengganti LPG bersubsidi ukuran 3 kg. Rencana transisi energi ini tengah memasuki tahap krusial, yaitu pengujian teknis terhadap penggunaan tabung gas tersebut.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menegaskan bahwa kebijakan substitusi ini merupakan upaya nyata pemerintah dalam mereduksi volume impor LPG. Saat ini, kebutuhan domestik mencapai 8,6 juta ton setiap tahunnya, sementara impor yang dilakukan masih berada di kisaran 7 juta ton per tahun. Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan kemandirian energi nasional.
“CNG ini untuk 3 kg masih kita melakukan exercise dan uji-coba terhadap tabungnya,” kata Bahlil ditemui di Kantornya, Rabu (6/5).
Mengenal Lebih Jauh Karakteristik CNG
CNG atau gas alam terkompresi adalah bahan bakar berbasis gas bumi yang kandungan utamanya terdiri dari metana. Berbeda dengan LPG yang disimpan dalam wujud cair, CNG diproses dengan cara dimampatkan dan disimpan di dalam bejana bertekanan tinggi dengan mempertahankan wujud gasnya.
Keunggulan utama CNG terletak pada aspek keamanan yang lebih baik dibandingkan LPG. Berdasarkan data dari Kementerian ESDM, CNG memiliki berat jenis yang lebih ringan dibandingkan udara, yakni pada kisaran 0,55 hingga 0,80 berbanding 1. Sifat ini membuat gas tersebut cenderung menguap ke udara atau atmosfer jika terjadi kebocoran, sehingga tidak mudah terkumpul di permukaan tanah yang berpotensi memicu ledakan atau pembakaran.
Efisiensi dan Ramah Lingkungan
Dari sisi performa, CNG memiliki nilai oktan yang cukup tinggi, mencapai angka 120. Selain itu, nilai kalor pembakarannya berkisar antara 9.000 hingga 11.000 Kcal/Kg atau setara dengan 38 hingga 47 MJ/Kg. Efisiensi ini menjadikan CNG salah satu pilihan bahan bakar yang sangat kompetitif.
Selain hemat biaya, CNG dikenal sebagai bahan bakar ramah lingkungan. Hal ini dikarenakan:
- Memiliki komposisi utama metana dan etana dengan rasio atom hidrogen terhadap karbon yang tinggi.
- Proses pemurniannya tidak menggunakan zat adiktif seperti Tetraethyl Lead (TEL) untuk meningkatkan angka oktan.
- Emisi karbon dan polusi yang dihasilkan jauh lebih rendah dibandingkan bahan bakar berbasis minyak bumi.
Karena profilnya yang bersih dan ekonomis, CNG telah banyak diaplikasikan di sektor transportasi, seperti pada armada bus, taksi, hingga kendaraan operasional truk. Upaya diversifikasi bahan bakar minyak ke Bahan Bakar Gas (BBG) berbasis CNG ini sebenarnya bukanlah hal baru bagi pemerintah, karena inisiatif serupa sudah mulai diperkenalkan secara bertahap sejak tahun 2013 lalu.
Dengan berlanjutnya fase uji coba pada tabung gas 3 kg ini, pemerintah menargetkan implementasi CNG dapat segera direalisasikan pada tahun ini. Kebijakan ini diharapkan tidak hanya membantu neraca perdagangan melalui pengurangan impor, tetapi juga memberikan akses energi yang lebih efisien bagi masyarakat luas.



