
SURABAYA, CLOTEH MEDIA – Nama Nadiem Makarim mendadak menjadi topik terpanas di seluruh linimasa media sosial dan portal berita nasional. Kejaksaan Agung (Kejagung) secara mengejutkan resmi menetapkan eks Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) itu sebagai tersangka utama. Penetapan ini terkait kasus dugaan korupsi pengadaan perangkat keras (Chromebook) yang masif dilakukan dalam periode 2019 hingga 2022.
Kabar ini sontak menghebohkan publik. Bagaimana tidak, figur yang dikenal sebagai ikon revolusi teknologi dan pendiri perusahaan decacorn Gojek tersebut, kini terseret dalam skandal yang merugikan keuangan negara. Status tersangka ini menandai babak baru yang dramatis dalam perjalanan karier sang mantan menteri.
Kejagung Tetapkan Tersangka, Menguak Dugaan Mark-up Chromebook
Direktur Penyidikan Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus (Dirdik Jampidsus) Kejagung, Nurcahyo Jungkung Madyo, memastikan bahwa penetapan status tersangka ini bukanlah langkah tanpa dasar. Tim penyidik Kejagung mengklaim telah mengantongi alat bukti yang lebih dari cukup untuk menjerat sosok yang pernah menjabat sebagai pejabat negara tertinggi di sektor pendidikan tersebut.
“Hari ini, kami telah menetapkan tersangka berinisial NAM, yang menjabat sebagai Menteri Kebudayaan, Riset, dan Teknologi periode 2019-2024,” tegas Nurcahyo di kompleks Kejagung, Kamis (4/9/2025). Proses hukum ini diperkirakan akan memakan waktu panjang, mengingat kompleksitas rantai pengadaan dan besarnya anggaran yang terlibat.
Kasus ini berpusat pada program pengadaan laptop dan perangkat Chromebook yang seharusnya mendukung kegiatan belajar mengajar jarak jauh selama pandemi. Namun, berdasarkan temuan awal Kejaksaan, proyek tersebut diduga kuat melibatkan praktik mark-up harga yang signifikan, sehingga merugikan kas negara hingga miliaran rupiah. Pengadaan ini sendiri menjadi salah satu program unggulan yang dicanangkan Nadiem Makarim saat memimpin kementerian.
BACA JUGA : Bukan 193,7 T, Kerugian Korupsi PT Pertamina Ditaksir Mencapai 968,5 T
Penetapan tersangka ini menjadi pukulan telak bagi dunia pendidikan dan citra birokrasi, terutama mengingat besarnya harapan publik yang disematkan pada program digitalisasi sekolah. Kini, publik menantikan bagaimana detail dugaan tindak pidana korupsi ini akan diurai oleh penyidik Kejaksaan Agung.
Jejak Gemilang Pendidikan: Dari Brown University hingga Harvard
Sebelum namanya melekat pada kasus hukum, Nadiem Makarim dikenal sebagai sosok yang memiliki latar belakang pendidikan yang cemerlang. Lahir di Singapura pada 4 Juli 1984, ia merupakan putra dari pasangan Nono Anwar Makarim, seorang pengacara terkemuka, dan Atika Alqadrie.
Perjalanan akademiknya dimulai di luar negeri. Ia menempuh pendidikan strata satu (S1) di jurusan Hubungan Internasional, Brown University. Kampus bergengsi di Amerika Serikat ini berhasil diselesaikan Nadiem pada tahun 2006, setelah empat tahun ia menekuni studinya di sana.
Tak berhenti di situ, Nadiem kemudian melanjutkan pendidikan ke jenjang pascasarjana. Pada 2009, ia hijrah ke Harvard Business School di Boston, Massachusetts, Amerika Serikat, untuk mengejar gelar Master. Gelar Master of Business Administration (MBA) berhasil ia raih pada tahun 2011.
Berbekal ilmu yang mumpuni dari kampus kelas dunia, Nadiem Makarim mulai meniti karier profesionalnya di Indonesia. Namun, ia tidak langsung terjun penuh pada ide besarnya, Gojek, yang baru dirintis pada tahun yang sama saat ia lulus dari Harvard.
Melompat dari Zalora ke Kartuku, Sebelum Fokus di Gojek
Meskipun ide Gojek telah lahir, Nadiem sempat mencoba peruntungan di dunia ritel daring. Pada November 2011, ia bergabung dengan Zalora Indonesia, sebuah e-commerce mode yang tengah naik daun saat itu, menduduki posisi penting sebagai Managing Director.
BACA JUGA : Update Perkara Nenek Elina, Polda Jatim Periksa 6 Saksi Terkait Insiden Pengusiran di Surabaya
Hanya 10 bulan menjabat, Nadiem memutuskan untuk melepaskan jabatannya di Zalora. Setelah jeda delapan bulan, ia kembali mencicipi dunia teknologi dengan bergabung bersama Kartuku, sebuah perusahaan rintisan yang fokus pada layanan pembayaran non-tunai, yang kini telah menjadi bagian dari Gojek.
Di Kartuku, Nadiem menjabat sebagai Chief Innovation Officer (CIO). Perannya sangat strategis, meliputi perumusan strategi produk, melakukan analisis kesiapan pasar secara mendalam, serta membangun kemitraan strategis yang kuat dengan berbagai pengecer besar di Indonesia. Pengalaman ini membentuk fondasi penting pemahaman Nadiem tentang ekosistem pembayaran digital.
Pada Maret 2014, Nadiem Makarim akhirnya mengambil langkah drastis yang menentukan masa depannya: mundur dari Kartuku. Ia memilih untuk mencurahkan seluruh energi dan fokusnya pada pengembangan Gojek, perusahaan yang ia yakini akan mengubah wajah transportasi dan logistik di Indonesia.
Revolusi Gojek: Dari Ojek Panggilan Menjadi Super App
Gojek, yang awalnya hanya berupa layanan pemesanan ojek melalui telepon, bertransformasi menjadi aplikasi daring yang revolusioner di bawah tangan dingin Nadiem. Aplikasi resmi Gojek diluncurkan pada Januari 2015, dan tak butuh waktu lama untuk menjadi fenomena nasional. Dalam waktu singkat, Gojek tidak hanya menghubungkan penumpang dengan pengendara, tetapi juga menyentuh aspek kehidupan sehari-hari masyarakat.
Inovasi yang diusung oleh Nadiem Makarim mengubah Gojek menjadi apa yang kini dikenal sebagai super app. Layanan diperluas secara eksponensial, mulai dari pembayaran tagihan (GoPay), pesan antar makanan (GoFood), hingga layanan kebersihan rumah (GoClean). Transformasi ini secara fundamental mengubah lanskap ekonomi digital dan menciptakan jutaan lapangan pekerjaan baru.
Keberhasilan Gojek tidak hanya diakui di dalam negeri. Perusahaan yang didirikan oleh Nadiem Makarim ini juga sukses melakukan ekspansi regional. Gojek merambah pasar di Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam, membuktikan bahwa inovasi teknologi asal Indonesia mampu bersaing di kancah global. Gojek kini menjadi salah satu layanan ojek online terbesar dan paling berpengaruh di Asia Tenggara.
Masuk Deretan 50 Sosok Paling Menginspirasi Versi Bloomberg
Sepak terjang Nadiem sebagai entrepreneur kelas dunia menarik perhatian majalah bisnis terkemuka, Bloomberg. Pada tahun 2018, pendiri Gojek Nadiem Makarim masuk dalam deretan “The Bloomberg 50,” daftar 50 sosok paling menginspirasi dan berpengaruh secara global.
BACA JUGA: Green Branding: Strategi Bisnis Berkelanjutan untuk Industri Kecantikan Indonesia
Pujian diberikan atas dampak transformatif Gojek di Indonesia. “Tidak ada aplikasi lain yang telah mengubah kehidupan di Indonesia secepat dan sedalam Go-Jek,” tulis Bloomberg kala itu. Mereka menyoroti bagaimana Gojek hanya dalam kurun waktu tiga tahun sejak 2015, mampu berkembang pesat dari sekadar pemesanan taksi motor menjadi platform multiguna.
“The Bloomberg 50” adalah daftar bergengsi yang berisi nama-nama tenar di berbagai bidang, mulai dari bisnis, hiburan, keuangan, politik, hingga sains dan teknologi. Kehadiran Nadiem Makarim di daftar itu menyandingkannya dengan tokoh-tokoh besar dunia.
Ia disejajarkan dengan nama-nama besar seperti Presiden Meksiko Andres Manuel Lopez Obrador, pendiri Spotify Daniel Ek, bintang pop Taylor Swift, dan grup idola Kpop BTS. Pengakuan ini menegaskan bahwa inovasi yang dilakukan Nadiem Makarim memiliki gaung global yang tak terbantahkan.
Kontras Nasib Sang Inovator
Perjalanan Nadiem Makarim dari pendiri perusahaan rintisan yang inovatif menjadi menteri termuda dalam Kabinet Indonesia Maju adalah kisah sukses yang langka dan inspiratif. Namun, kisah gemilang itu kini mendapati tikungan tajam yang menyakitkan. Jerat hukum dalam kasus korupsi Chromebook menodai citra bersih yang selama ini melekat padanya.
Kini, publik menanti kepastian dan keadilan dari proses hukum yang berjalan di Kejaksaan Agung. Kasus ini menjadi pengingat pahit bahwa kekuasaan besar membawa tanggung jawab yang lebih besar lagi, dan bahwa sorotan terhadap pejabat publik tidak pernah pudar. Meskipun dikenal sebagai inovator ulung, nasib politik dan hukum Nadiem Makarim kini berada di ujung tanduk.


